Palembang — Metromedia.co.id Di sebuah siang yang teduh di Gedung Ismawardhani, Jalan Siaran, Kecamatan Sako, tawa dan sapaan hangat bersahut-sahutan. Satu per satu orang datang, saling menyalami, seolah tak ada sekat di antara mereka. Hari itu, Ahad (29/3/2026), bukan sekadar pertemuan biasa—melainkan perayaan rasa rindu yang terobati dalam balutan halal bihalal keluarga besar Forum Komunikasi Keluarga Ngulak Palembang (FKKNP).
Mengusung tema “Membangun Akhlak Mulia dengan Silaturahmi Saling Memaafkan”, kegiatan ini menjadi ruang temu bagi warga Ngulak yang merantau di Kota Palembang. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, mereka menemukan kembali akar kebersamaan yang mungkin sempat terpisah oleh jarak dan waktu.
Di antara para tamu yang hadir, tampak Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan Muhammad F. Ridho, serta Bupati Musi Banyuasin H. M. Toha Tohet. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk pengakuan bahwa komunitas seperti FKKNP memiliki peran penting dalam menjaga jalinan sosial masyarakat.
Tak hanya itu, kehadiran M. Deden bersama jajaran Himpunan Pemuda Sanga Desa (HIPASADA) turut memberi warna tersendiri. Generasi muda dan organisasi kedaerahan tampak menyatu, menciptakan harmoni yang menegaskan bahwa silaturahmi bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga investasi masa depan.

Di tengah suasana yang hangat itu, Ratu Dewa berbicara bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang memahami pentingnya kebersamaan.
“Halal bihalal bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan dan memperkuat nilai kebersamaan,” ujarnya, disambut anggukan para hadirin.
Namun, lebih dari sekadar seremoni, ia melihat FKKNP sebagai ruang yang hidup—yang seharusnya mampu menghadirkan manfaat nyata.
“Hari ini kita halal bihalal bersama keluarga besar FKKNP. Kita menyambut positif dan akan memberikan dukungan yang bisa bermanfaat bagi anggotanya, sehingga hubungan kekeluargaan dan nilai sosial tetap terpelihara,” katanya.
Baginya, kekuatan sebuah organisasi bukan hanya pada jumlah, tetapi pada kepedulian. Ia membayangkan sebuah sistem yang mampu mengenali siapa yang membutuhkan bantuan, siapa yang perlu dirangkul lebih dekat.
“Harus ada database. Dari situ kita bisa melihat warga yang membutuhkan bantuan, baik di sektor pendidikan maupun kesehatan. Hal-hal kecil seperti ini justru yang membuat organisasi terasa kehadirannya,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan, tantangan ke depan tidak lagi sederhana. Dunia bergerak cepat menuju digitalisasi, dan organisasi masyarakat pun harus ikut beradaptasi.
“Kedepan harus ada edukasi menghadapi era digitalisasi. Ini tantangan besar, dan organisasi seperti FKKNP kita harapkan bisa hadir di sana,” ujarnya.
Optimisme juga ia sampaikan terhadap tumbuhnya organisasi seperti FKKNP yang dinilainya mampu memperkuat dukungan terhadap pembangunan.
“Semakin berkembang organisasi seperti ini, semakin baik. Dinamika yang ada justru memperkuat dukungan di bidang pembangunan. Pemerintah Kota Palembang siap bersinergi dan mendukung,” tegasnya.
Di sisi lain, Ketua FKKNP, Hj. Asmarani, berdiri di tengah anggota yang ia sebut sebagai keluarga. Baginya, FKKNP bukan sekadar organisasi, melainkan rumah bersama.
“Saat ini anggota yang sudah terdaftar ada sekitar 4.000 orang. Yang hadir hari ini mungkin baru separuhnya,” ujarnya dengan senyum yang menyiratkan kebanggaan.
Namun, ia menyadari masih banyak warga Ngulak di Palembang yang belum bergabung. Ia pun mengajak mereka untuk menjadi bagian dari keluarga besar ini.
“Kami menghimbau bagi warga Ngulak yang belum bergabung untuk segera bergabung. Banyak manfaat yang bisa dirasakan,” katanya.
Manfaat itu bukan sekadar kata. Ia menyebut bagaimana FKKNP secara rutin hadir di saat-saat penting kehidupan anggotanya.
“Kami memberikan santunan kepada keluarga yang terkena musibah meninggal dunia, juga bantuan lainnya yang bisa kami upayakan. Tapi yang paling penting adalah menjaga semangat persatuan dan silaturahmi,” tuturnya.
Di sela acara, tausiyah keagamaan mengalir lembut, mengingatkan bahwa memaafkan adalah jalan untuk membersihkan hati.
Sementara itu, gelak tawa terdengar saat undian doorprize dibagikan—sebuah detail kecil yang justru mempererat kebahagiaan bersama.
Menjelang akhir acara, satu momen sederhana namun sarat makna terjadi: saling bersalaman. Tangan-tangan yang mungkin lama tak bertemu kini saling menggenggam, menyampaikan maaf tanpa banyak kata.
Di situlah, makna halal bihalal menemukan bentuknya yang paling nyata.
FKKNP, di tengah segala kesederhanaannya, telah menjadi lebih dari sekadar organisasi. Ia adalah jembatan—yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, kampung halaman dengan tanah rantau, serta individu dengan rasa kebersamaan yang tak lekang oleh waktu. (Adi)















