banner 728x250

Media Gathering BPJS Kesehatan: dari gagasan hingga sinergi publikasi update layanan publik.

banner 120x600

Palembang — metromedia.co.id Di sebuah pagi yang tenang di Jalan R. Sukamto, denyut lain dari pelayanan publik terasa lebih hangat dari biasanya. Kantor BPJS Kesehatan Wilayah Palembang tak sekadar menjadi ruang administratif, melainkan menjelma menjadi titik temu gagasan, percakapan, dan jalinan kepercayaan antara institusi dan para penjaga informasi publik—insan media.

Jumat, 10 April 2026 itu, suasana gathering berlangsung tanpa sekat yang kaku. Percakapan mengalir ringan, namun menyimpan substansi yang dalam: bagaimana memastikan bahwa setiap denyut kebijakan kesehatan benar-benar sampai dan dipahami oleh masyarakat luas.

Kepala BPJS Kesehatan Wilayah Palembang, Edy Surlis, menyadari bahwa di balik setiap program yang dirancang, ada peran penting media sebagai jembatan narasi—yang menerjemahkan kebijakan menjadi pemahaman publik.

“Ini bukan sekadar pertemuan formal, tetapi ruang kebersamaan untuk memperkuat jalinan silaturahmi antara media dan BPJS Kesehatan,” ujarnya, dengan nada yang menekankan pentingnya relasi yang dibangun di atas kepercayaan.

Dalam paparannya, Edy tidak hanya berbicara tentang angka kepesertaan atau capaian program. Ia menyinggung sesuatu yang lebih mendasar: kesadaran. Bahwa keberhasilan sistem jaminan kesehatan nasional tidak hanya ditentukan oleh regulasi, tetapi oleh sejauh mana masyarakat merasa memiliki dan memahami manfaatnya.

Ia menjelaskan berbagai kemudahan yang kini dapat diakses masyarakat melalui program-program BPJS Kesehatan—mulai dari layanan administrasi yang semakin digital hingga kemudahan akses pelayanan kesehatan yang terus diperluas. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang terus ditekankan: partisipasi aktif masyarakat adalah fondasi utama.

Menariknya, dalam forum yang hangat tersebut, Edy membuka ruang komunikasi yang nyaris tanpa jarak. Ia menawarkan akses langsung kepada para wartawan, sebuah langkah yang mencerminkan transparansi sekaligus kesiapan untuk terus berdialog.

“Untuk mempermudah informasi, rekan-rekan media bisa langsung bertanya atau sharing melalui WhatsApp saya,” katanya, menandai komitmen untuk menjaga arus informasi tetap terbuka dan responsif.

Gathering ini pada akhirnya bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjadi refleksi bahwa di tengah kompleksitas sistem kesehatan, komunikasi yang jernih dan hubungan yang erat dengan media adalah elemen strategis. Sebab, dari ruang-ruang percakapan seperti inilah, kepercayaan publik dibangun—perlahan, namun pasti. (Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *