banner 728x250

“Dari Laboratorium ke Lahan dan Industri: Dua Guru Besar Polsri Menenun Masa Depan Energi dan Teknologi Cerdas”

banner 120x600

Palembang, Metromedia.co.id — Di tengah dinamika dunia industri yang terus bergerak cepat, Politeknik Negeri Sriwijaya kembali menegaskan perannya sebagai kawah candradimuka pendidikan vokasi. Bukan sekadar seremoni akademik, pengukuhan dua guru besar pada Selasa (21/4/2026) menjadi penanda arah baru: ilmu pengetahuan yang tak lagi berhenti di ruang kelas, tetapi mengalir hingga ke sektor industri dan kehidupan masyarakat.

Dua nama yang kini menyandang gelar tertinggi akademik itu adalah Tresna Dewi dan Muhammad Yerizan. Keduanya hadir dengan spektrum keilmuan yang berbeda, namun bertemu dalam satu titik yang sama: menjawab tantangan masa depan melalui inovasi.
Di balik toga dan prosesi pengukuhan, tersimpan perjalanan panjang dedikasi, riset, dan pengabdian. Bagi Direktur Polsri, Irawan Rusnadi, capaian ini bukan hanya prestasi personal, melainkan investasi intelektual bagi masa depan bangsa.

“Gelar guru besar bukanlah garis akhir, melainkan titik tolak untuk melahirkan lebih banyak inovasi yang berdampak,” ujarnya, menekankan bahwa peran akademisi kini dituntut lebih dari sekadar mengajar—tetapi juga menghadirkan solusi nyata.

Dalam orasi ilmiahnya, Tresna Dewi membawa audiens memasuki lanskap teknologi masa depan yang berpadu dengan alam. Ia mengangkat konsep agrivoltaik—sebuah pendekatan yang menggabungkan pertanian dengan pembangkit listrik tenaga surya. Namun, di balik potensi besar energi matahari, tersimpan persoalan klasik: ketidakpastian.

Awan yang melintas, suhu yang berubah, hingga intensitas cahaya yang fluktuatif menjadi tantangan tersendiri. Di sinilah peran sistem kendali cerdas menjadi krusial—mengatur, menyeimbangkan, dan memastikan energi tetap stabil untuk mendukung pertanian modern.

“Energi terbarukan tidak hanya soal keberlanjutan, tetapi juga soal keandalan,” ungkapnya, menyoroti bagaimana teknologi dapat menjembatani kebutuhan pangan dan energi secara simultan, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia.

Sementara itu, di bidang yang berbeda namun saling melengkapi, Muhammad Yerizan mengusung visi besar tentang energi dan lingkungan. Dalam perspektifnya, masa depan industri tidak bisa dilepaskan dari efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan. Teknologi kimia industri, menurutnya, harus bertransformasi menjadi lebih ramah lingkungan tanpa kehilangan daya saing.

Pengukuhan ini pun menjadi refleksi bahwa kampus vokasi seperti Polsri tidak lagi berada di pinggiran ekosistem inovasi. Justru sebaliknya, ia berdiri di garis depan—menghubungkan riset dengan kebutuhan riil dunia usaha dan industri.

Lebih dari sekadar menambah jumlah guru besar, momentum ini menghadirkan harapan baru: lahirnya generasi lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan solusi. Dari panel surya di lahan pertanian hingga sistem industri yang lebih efisien, benang merahnya jelas—ilmu yang hidup, relevan, dan berdampak. (Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *