banner 728x250

Dari Ruang Kelas ke Ruang Sidang: Sekolah Politik NasDem Sumsel Menyemai Generasi Pemimpin Muda Palembang.

banner 120x600

PALEMBANG, Metromedia.co.id —Suasana Minggu pagi di Sekretariat DPW Partai NasDem Sumatera Selatan tampak berbeda. Bukan sekadar pertemuan rutin partai, melainkan ruang belajar yang dipenuhi semangat muda. Puluhan pelajar duduk rapi, sebagian tampak serius mencatat, sebagian lainnya antusias berdiskusi. Di ruangan inilah, gagasan tentang masa depan politik Indonesia mulai ditanamkan—melalui program Sekolah Politik dan Pengkaderan Remaja Bernegara.

Sebanyak 79 pelajar dari berbagai SMA dan SMK di Palembang menjadi angkatan pertama dalam program ini. Mereka bukan peserta biasa. Mayoritas adalah siswa aktif organisasi, pengurus OSIS, hingga pelajar berprestasi yang terbiasa berpikir kritis. Namun hari itu, mereka memasuki dunia yang berbeda: dunia politik yang selama ini kerap dipandang jauh, rumit, bahkan negatif.

Program ini, sebagaimana dijelaskan Sekretaris DPW NasDem Sumsel, H. Nopianto, S.Sos., M.M., merupakan bagian dari gerakan nasional yang digagas partai. Setelah berjalan di tingkat pusat, kini konsep tersebut diterapkan secara serentak hingga ke daerah, termasuk Sumatera Selatan.

“Ini bukan kegiatan sekali selesai. Ini proses panjang dalam membangun kesadaran politik generasi muda,” ujarnya.

Namun yang membuat program ini menarik bukan hanya materi yang disampaikan, melainkan pendekatannya. Para peserta tidak sekadar duduk mendengarkan teori politik. Mereka diajak masuk ke dalam simulasi nyata proses bernegara.

Di dalam ruangan, peran-peran strategis dibagikan. Ada yang menjadi anggota DPRD, kepala daerah, sekretaris daerah, hingga sekretaris dewan. Mereka kemudian menjalankan simulasi proses legislasi—dari merancang ide Peraturan Daerah (Perda), membahasnya di tingkat komisi, hingga membentuk panitia khusus dan mengesahkannya.

Diskusi berlangsung hangat. Argumen saling beradu, ide dipertahankan, dan kompromi mulai dipelajari. Bagi sebagian peserta, ini adalah pengalaman pertama memahami bahwa politik bukan sekadar retorika, melainkan proses berpikir, bernegosiasi, dan mengambil keputusan.

Di balik simulasi itu, ada misi yang lebih besar: mengubah cara pandang generasi muda terhadap politik.
Selama ini, stigma bahwa politik identik dengan kepentingan sempit, konflik, atau bahkan praktik yang tidak sehat masih melekat kuat. NasDem mencoba mematahkan anggapan tersebut dengan pendekatan edukatif.

“Kami ingin anak-anak muda melihat bahwa politik itu adalah alat untuk berbuat kebaikan,” kata Nopianto.

Lebih jauh, program ini juga dirancang sebagai bagian dari regenerasi kepemimpinan. Bukan rahasia lagi bahwa tantangan bangsa ke depan akan semakin kompleks. Dibutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memahami sistem pemerintahan dan memiliki integritas.
Karena itu, pembinaan tidak berhenti di ruang pelatihan.

Paradigma peserta akan mendapatkan pendampingan lanjutan, termasuk rencana kunjungan langsung ke gedung DPRD Sumatera Selatan. Di sana, mereka akan melihat secara nyata bagaimana proses legislasi berlangsung di dunia sesungguhnya.

Menariknya, program ini dibuka secara umum tanpa melalui jalur sekolah. Peserta mendaftar secara mandiri dan melewati seleksi teknis, menandakan bahwa minat terhadap politik di kalangan generasi muda sebenarnya cukup tinggi—hanya saja selama ini belum memiliki ruang yang tepat.

Di tengah dinamika sosial dan derasnya arus informasi digital, langkah seperti ini menjadi penting. Generasi Z tidak lagi bisa dipandang apatis. Mereka justru membutuhkan ruang untuk terlibat, memahami, dan berkontribusi.

Sekolah Politik NasDem Sumsel mungkin baru langkah awal. Namun dari ruang sederhana itu, satu hal mulai terlihat jelas: politik tidak lagi harus dipahami sebagai sesuatu yang jauh dan kotor.

Di tangan generasi muda, politik bisa menjadi ruang belajar, ruang pengabdian, dan mungkin—ruang harapan bagi masa depan. (Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *