Palembang—Metromedia.co.id Di tengah derasnya arus digital yang kerap membuat generasi muda larut dalam hiburan tanpa batas, sebuah ruang di Kampus B UIN Raden Fatah Palembang, Jakabaring, justru menghadirkan energi yang berbeda, Sabtu (4/4/2026).
Bukan sekadar seminar, kegiatan yang diinisiasi oleh Pemuda ICMI Sumatera Selatan bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) menjadi titik temu antara ide, peluang, dan keberanian untuk memulai.
Mengusung tema “Mengubah Kreativitas Menjadi Bisnis: Peluang Ekonomi Kreatif di Era Teknologi”, sekitar 150 peserta dari berbagai latar belakang organisasi kepemudaan dan mahasiswa tampak antusias memenuhi aula. Mereka datang bukan hanya untuk mendengar, tetapi mencari arah.
Di hadapan para peserta, Wakil Dekan III FEBI, Dr. Chandra Zaky Maulana, mengajak mahasiswa melihat gadget dari sudut pandang yang berbeda. Bukan lagi sekadar alat hiburan, melainkan instrumen produktivitas.
“Masih banyak yang menggunakan gadget hanya untuk bermain gim atau media sosial tanpa nilai tambah. Padahal, di era ini, teknologi bisa menjadi pintu masuk menuju kemandirian ekonomi,” ujarnya.
Pesan itu terasa relevan. Di era ketika scrolling menjadi kebiasaan, mengubahnya menjadi earning adalah lompatan besar yang membutuhkan kesadaran dan keberanian.
Seminar ini sendiri bukan berdiri tanpa arah. Ia merupakan implementasi nyata dari kerja sama antara kampus dan organisasi kepemudaan—sebuah langkah yang, menurut Chandra, tidak boleh berhenti pada seremoni semata.
Di sisi lain, Ketua Umum Pemuda ICMI Sumsel, Dr. Zainul Arifin, menyoroti fenomena yang kerap luput disadari: banyak anak muda mahir menggunakan media sosial, tetapi belum mampu mengubahnya menjadi nilai ekonomi.
“Potensinya besar, tapi belum dimaksimalkan. Ini yang ingin kita dorong—bagaimana kreativitas itu bisa benar-benar menjadi bisnis,” katanya.
Lebih jauh, ia mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak dalam sisi gelap media sosial—mulai dari ujaran kebencian hingga aktivitas tanpa produktivitas. Baginya, ruang digital seharusnya menjadi ladang peluang, bukan sekadar tempat pelampiasan.
Dalam forum itu, gagasan tentang “saudagar muda” kembali digaungkan. Bukan sekadar istilah, tetapi visi untuk membentuk generasi yang mandiri secara ekonomi sekaligus berkontribusi bagi masyarakat.
Para peserta pun tidak hanya disuguhi konsep. Mereka diajak memahami praktik—dari bisnis kuliner, fesyen, hingga strategi pemasaran digital yang relevan dengan perkembangan zaman.
Diskusi berjalan dinamis. Ide-ide bermunculan. Dan di antara deretan kursi peserta, tersimpan potensi-potensi baru yang mungkin suatu hari akan tumbuh menjadi pelaku usaha, bahkan pencipta lapangan kerja.
Di akhir kegiatan, satu benang merah terasa kuat: masa depan tidak lagi menunggu. Ia sedang dibentuk—di ruang-ruang seperti ini, oleh mereka yang berani mengubah kebiasaan kecil menjadi langkah besar.
Karena di era digital, kreativitas saja tidak cukup. Ia harus diarahkan, dikelola, dan yang terpenting—diberanikan untuk dimulai. (Adi)















