PALEMBANG , Metromedia.co.id — Tantangan dunia kerja semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), persaingan tenaga kerja lintas negara, serta derasnya arus informasi. Kondisi ini menuntut lulusan perguruan tinggi tidak hanya mengandalkan ijazah dan kemampuan akademik, tetapi juga memperkuat karakter, daya tahan mental, dan kemampuan beradaptasi.
Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Indo Global Mandiri (IGM), Dr. H. Marzuki Alie, Ph.D., saat memberikan sambutan dalam Sidang Senat Terbuka dan Wisuda ke-XXIV Universitas Indo Global Mandiri di Golden Sriwijaya Building, Jalan Gubernur H. Bastari, Kota Palembang, Sabtu (24/10/2026).
Di hadapan para wisudawan, Marzuki secara terbuka mengingatkan bahwa kehidupan setelah kelulusan bukanlah perjalanan yang mudah. Menurutnya, terdapat tiga tantangan besar yang harus diantisipasi para lulusan, yakni perkembangan AI, persaingan kerja global, dan melimpahnya informasi yang tidak selalu diimbangi kesiapan mental.
“Jujur saya sampaikan, tantangan kalian besok setelah wisuda ini sangat tidak mudah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan pertama datang dari perkembangan AI yang semakin mampu mengambil alih berbagai pekerjaan rutin. Sejumlah bidang, mulai dari administrasi, penerjemahan hingga pekerjaan programmer pemula, berpotensi mengalami perubahan besar akibat otomatisasi.
Marzuki menyebut sekitar 40 persen pekerjaan rutin diperkirakan dapat tergantikan oleh AI. Karena itu, para lulusan dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi dan tidak berhenti belajar setelah memperoleh gelar akademik.
Tantangan kedua adalah persaingan tenaga kerja yang kini melampaui batas wilayah dan negara. Lulusan perguruan tinggi di Palembang tidak hanya berhadapan dengan pencari kerja dari daerah yang sama, tetapi juga harus bersaing dengan tenaga kerja dari berbagai negara.
“Bukan lagi Palembang melawan Palembang, tetapi Palembang melawan Vietnam dan India,” tegasnya.
Menurut Marzuki, perubahan tersebut menuntut lulusan memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan industri, wawasan luas, serta kemauan untuk terus mengembangkan diri. Gelar sarjana, menurutnya, harus menjadi titik awal untuk menghadapi persaingan, bukan dianggap sebagai jaminan keberhasilan dalam memperoleh pekerjaan.
Sementara itu, tantangan ketiga yang dinilainya tidak kalah serius adalah derasnya arus informasi yang berpotensi melemahkan ketahanan mental apabila tidak disikapi secara bijak.
Di tengah kemudahan mengakses informasi melalui berbagai platform digital, para lulusan harus mampu memilah informasi, menjaga kejernihan berpikir, dan membangun ketangguhan dalam menghadapi tekanan maupun kegagalan.
“Informasi boleh datang tanpa batas, tetapi mental yang lemah akan membuat kalian mudah tumbang,” katanya.
Marzuki juga menyinggung proyeksi World Economic Forum (WEF) mengenai perubahan dunia kerja pada masa mendatang. Ia menyebut sekitar 65 persen pekerjaan pada 2030 belum memiliki nama saat ini. Menurutnya, hal tersebut menjadi gambaran betapa cepatnya perubahan kebutuhan kompetensi di dunia kerja.
Perubahan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan tinggi perlu terus diperbarui. Pengetahuan dan keterampilan yang relevan hari ini belum tentu tetap memadai untuk menghadapi tantangan beberapa tahun mendatang.
“Kalau begitu, untuk apa kita wisuda hari ini? Jawabannya ada pada apa yang kalian bawa pulang,” ucapnya.
Ia menegaskan, keberhasilan pendidikan di IGM tidak semata-mata diukur dari jumlah sarjana yang diluluskan, tetapi juga dari nilai-nilai yang dibawa para alumninya ketika memasuki kehidupan bermasyarakat dan dunia profesional.
Menurut Marzuki, kemampuan akademik dan penguasaan teknologi tetap penting. Namun, ada dimensi kemanusiaan yang harus terus dijaga agar lulusan mampu memberikan kontribusi nyata di tengah perubahan zaman.
Ia menyoroti perbedaan mendasar antara manusia dan mesin. AI dapat berkembang melalui pengolahan data dalam jumlah besar, tetapi manusia memiliki hati, empati, akal budi, dan kemampuan untuk memaknai pengalaman hidup.
Marzuki menilai, nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan yang harus dipelihara para wisudawan agar tidak sekadar menjadi pekerja yang mampu menjalankan tugas, tetapi juga pribadi yang memiliki integritas dan kepedulian terhadap sesama.
Ia menggambarkan bagaimana manusia merespons kegagalan dengan cara yang berbeda dari mesin. Ketika menghadapi penolakan dalam mencari pekerjaan, AI dapat memperbarui algoritmanya, sedangkan manusia harus melewati proses emosional, mengevaluasi diri, dan menemukan kembali semangat untuk melangkah.
“Di situlah keunggulan kalian, dan itulah yang membuat kalian tidak tergantikan,” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan baru yang menuntut kesiapan menghadapi perubahan. Para lulusan IGM diharapkan mampu memadukan kompetensi, kemampuan beradaptasi, ketahanan mental, dan nilai-nilai kemanusiaan untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif. (Bro Adi )













