PALEMBANG — Metromedia.co.id Aroma konsolidasi mulai terasa di tubuh Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi Sumatera Selatan menjelang digelarnya Konferensi Wilayah (Konferwil) Ke-9 EW-LMND Sumsel. Di tengah dinamika gerakan mahasiswa yang terus mencari bentuk baru dalam menghadapi perubahan zaman, satu nama perlahan menguat menjadi perbincangan internal kader: Wahidin.
Bagi sebagian aktivis mahasiswa di Kota Palembang, nama Wahidin bukan sosok baru. Ia dikenal sebagai kader yang tumbuh dari ritme panjang diskusi kampus, mimbar bebas, hingga aksi-aksi jalanan yang mengangkat isu pendidikan, demokrasi, dan persoalan kerakyatan. Kini, Ketua EK LMND Palembang itu resmi menyatakan diri maju sebagai calon Ketua EW-LMND Sumsel untuk periode mendatang.
Langkah Wahidin tidak lahir secara tiba-tiba. Di tengah situasi organisasi mahasiswa yang menghadapi tantangan regenerasi, fragmentasi gerakan, hingga perubahan pola aktivisme generasi muda, ia melihat ada kebutuhan besar untuk membangun kembali arah perjuangan organisasi agar lebih relevan dan membumi.
“LMND Sumsel harus menjadi lokomotif gerakan mahasiswa yang tidak hanya kritis, tetapi juga solutif dan mampu beradaptasi dengan tantangan zaman. Saya siap mewakafkan diri untuk memperkuat struktur organisasi hingga ke akar rumput,” ujar Wahidin saat menyampaikan komitmennya.
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa Konferwil Ke-9 nanti tidak hanya akan menjadi agenda formal pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, forum tersebut diprediksi menjadi arena pertarungan ide, arah gerakan, dan masa depan organisasi mahasiswa progresif di Sumatera Selatan.
Di internal organisasi, Wahidin disebut membawa narasi “transformasi dan konsolidasi”. Dua kata yang belakangan menjadi diskursus penting di kalangan kader LMND. Transformasi dipahami bukan sekadar pergantian wajah kepemimpinan, melainkan perubahan cara organisasi membaca zaman. Sementara konsolidasi menjadi pekerjaan rumah besar untuk memperkuat basis kader hingga tingkat kota dan kampus.
Beberapa kader LMND di daerah mulai menyuarakan dukungan terhadap sosok Wahidin. Mereka menilai organisasi membutuhkan figur yang mampu menjembatani militansi gerakan dengan pendekatan yang lebih inklusif dan strategis.
Di sisi lain, dinamika Konferwil kali ini juga dianggap menarik karena berlangsung di tengah perubahan lanskap gerakan mahasiswa nasional. Jika dahulu gerakan mahasiswa identik dengan demonstrasi besar dan agitasi politik jalanan, kini tantangannya jauh lebih kompleks: era digital, polarisasi sosial, hingga menurunnya kultur literasi politik di kalangan mahasiswa.
Dalam konteks itu, Wahidin menilai LMND Sumsel tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan. Organisasi, menurutnya, harus mampu hadir sebagai ruang kaderisasi intelektual sekaligus alat perjuangan rakyat.
“Konferwil bukan sekadar suksesi kepemimpinan, melainkan ruang dialektika untuk merumuskan arah gerak LMND Sumsel dalam menghadapi eskalasi politik dan sosial di masa depan,” katanya.
Bagi banyak kader muda, Konferwil Ke-9 EW-LMND Sumsel nanti akan menjadi penentu arah baru organisasi: apakah tetap bertahan dengan pola gerakan lama, atau berani masuk ke fase baru yang lebih adaptif tanpa kehilangan identitas perjuangannya.
Di tengah dinamika itu, kemunculan Wahidin menjadi representasi generasi kader muda yang mencoba membawa semangat perubahan dari tingkat kota menuju panggung wilayah. Sebuah langkah yang tidak hanya berbicara tentang perebutan kursi kepemimpinan, tetapi juga tentang pertarungan gagasan mengenai masa depan gerakan mahasiswa di Sumatera Selatan.
Sebab dalam tradisi organisasi mahasiswa, kepemimpinan bukan sekadar jabatan. Ia adalah simbol arah perjuangan. (Adi)











