banner 728x250

Menakar Arah Pembangunan di Usia ke-19 Empat Lawang

banner 120x600

Empat Lawang—Metromedia.co.id Setiap peringatan hari jadi sejatinya bukan sekadar penanda bertambahnya usia sebuah daerah, melainkan juga ruang jeda untuk menengok perjalanan yang telah dilalui. Di usia ke-19 pada 20 April 2026, Kabupaten Empat Lawang dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: sejauh mana pembangunan benar-benar menyentuh kehidupan masyarakatnya?

Sejak resmi berdiri pada 20 April 2007, Empat Lawang terus bergerak membangun fondasi daerahnya. Jalan-jalan mulai terhubung, fasilitas publik bertambah, dan geliat ekonomi perlahan tumbuh. Namun di balik capaian tersebut, masih tersisa pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Matori Jeriyan, mahasiswa asal Empat Lawang, melihat momentum ini sebagai saat yang tepat untuk melakukan refleksi yang lebih jernih. Baginya, pembangunan tidak cukup diukur dari angka-angka atau proyek fisik semata, melainkan dari sejauh mana manfaatnya dirasakan oleh masyarakat secara luas.

“Di usia yang ke-19 ini, Empat Lawang seharusnya mulai bergeser dari sekadar mengejar kuantitas menuju kualitas pembangunan,” ujarnya.

Ia menyoroti sejumlah sektor krusial yang masih membutuhkan perhatian serius, mulai dari kualitas pendidikan yang belum merata, infrastruktur yang belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah, hingga penguatan ekonomi berbasis potensi lokal yang dinilai belum optimal digarap.

Di tengah dinamika tersebut, suara generasi muda menjadi penting. Mahasiswa, kata Matori, tidak hanya berperan sebagai pengamat, tetapi juga pengawal arah kebijakan publik. Kehadiran mereka diharapkan mampu menjadi jembatan antara aspirasi masyarakat dan kebijakan pemerintah.
Lebih jauh, ia mendorong agar pemerintah daerah dapat menghadirkan kebijakan yang tidak hanya progresif, tetapi juga transparan dan berkelanjutan. Sebab, pembangunan yang ideal bukan hanya tentang apa yang terlihat hari ini, melainkan juga tentang apa yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Peringatan hari jadi ke-19 ini pun menjadi semacam pengingat kolektif: bahwa pembangunan adalah kerja bersama. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat, termasuk generasi mudanya.

Di tengah harapan yang terus tumbuh, Empat Lawang kini berdiri di persimpangan antara capaian dan tantangan. Usia ke-19 bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari babak baru untuk melangkah lebih matang—menuju pembangunan yang tidak hanya maju, tetapi juga merata dan berkeadilan. (Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *