Palembang, Metromedia.co.id — Aroma mie pedas yang menggoda berpadu dengan riuh percakapan pengunjung siang itu di Mie Gacoan Alang-Alang Lebar. Di antara antrean panjang dan lalu-lalang karyawan, suasana sedikit berbeda tampak pada Jumat (24/4/2026). Sejumlah anggota DPRD Kota Palembang dari Daerah Pemilihan (Dapil) II hadir, bukan sekadar mencicipi kuliner yang tengah naik daun, tetapi menyerap langsung denyut kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Reses masa persidangan II Tahun 2026 kali ini terasa lebih membumi. Tidak digelar di aula formal atau ruang pertemuan yang kaku, melainkan di ruang publik yang hidup—tempat warga bekerja, berkumpul, dan menggantungkan harapan ekonomi.
Dipimpin Ketua Dapil II, H. Sutami Ismail, beserta rombongan yang terdiri dari lintas fraksi itu berbaur dengan suasana. Mereka mengamati langsung bagaimana sebuah usaha kuliner mampu menciptakan ekosistem kecil yang berdampak pada lingkungan sekitar.
Di sela kunjungan, Sutami menegaskan bahwa kehadiran usaha seperti ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga soal kebermanfaatan sosial.
“Yang kami lihat hari ini bukan sekadar ramai pengunjung, tetapi bagaimana usaha ini membuka peluang. Sekitar 80 persen karyawannya berasal dari warga sekitar. Ini bukan angka kecil, ini nyata membantu mengurangi pengangguran,” ujarnya, sembari menatap aktivitas dapur yang tak pernah sepi.
Di balik hiruk-pikuk itu, ada cerita tentang anak-anak muda yang kini tak perlu pergi jauh mencari pekerjaan. Ada pula ibu rumah tangga yang memiliki tambahan penghasilan, serta warga yang merasa lebih dekat dengan pusat aktivitas ekonomi.
Namun, di tengah apresiasi, catatan kritis tetap disampaikan. Anggota DPRD, Rubi Indiarta, mengingatkan bahwa pertumbuhan usaha harus berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap regulasi.
“Perizinan seperti PBG dan AMDAL lalu lintas harus segera dituntaskan. Ini penting agar keberadaan usaha ini tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari, terutama dari sisi keamanan dan ketertiban,” tegasnya.
Hal serupa juga disoroti Andri Adam. Baginya, keberhasilan sebuah usaha tidak hanya diukur dari jumlah pelanggan, tetapi juga dari bagaimana perusahaan memperlakukan para pekerjanya.
“Tenaga kerja adalah bagian utama dari roda usaha. Hak-hak mereka harus dipenuhi, mulai dari upah sesuai UMR hingga hak cuti. Ini soal keadilan dan keberlanjutan,” katanya.
Di sisi lain, Store Manager Mie Gacoan Alang-Alang Lebar, Vita Rautami, tampak antusias menyambut kunjungan tersebut. Baginya, perhatian dari wakil rakyat menjadi dorongan moral untuk terus berkembang.
“Kami merasa diperhatikan. Ini jadi motivasi bagi kami untuk terus memperbaiki diri dan memberikan kontribusi lebih,” ujarnya.
Sejak dibuka pada Desember 2025, gerai ini memang tak pernah sepi. Beroperasi 24 jam, tempat ini menjelma menjadi ruang alternatif bagi warga—khususnya generasi muda—untuk berkumpul tanpa harus ke pusat kota.
Lebih dari sekadar tempat makan, Mie Gacoan perlahan menjadi simpul sosial baru di kawasan Alang-Alang Lebar. Sebuah ruang di mana ekonomi, interaksi sosial, dan harapan bertemu dalam satu titik.
“Di sini bukan hanya soal makan. Banyak anak muda yang datang untuk bertemu teman, berdiskusi, bahkan sekadar melepas penat setelah bekerja,” tambah Vita.
Reses kali ini pun meninggalkan kesan berbeda. Di tengah kepulan uap mie dan suara gelas beradu, para wakil rakyat tidak hanya mendengar aspirasi—mereka menyaksikan langsung bagaimana sebuah usaha bisa menjadi denyut baru bagi lingkungan.
Di Alang-Alang Lebar, dari seporsi mie sederhana, tumbuh cerita tentang peluang, kesejahteraan, dan harapan yang perlahan menemukan bentuknya. (Adi)
