PALEMBANG, Metromedia.co.id — Membangun keamanan dan menjaga kondusivitas daerah tidak cukup hanya mengandalkan langkah penegakan hukum. Komunikasi terbuka, pertukaran informasi, serta pelibatan berbagai elemen masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam memahami dinamika sosial sekaligus mengantisipasi potensi konflik di tengah masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan pemerhati kebijakan dan politik Sumatera Selatan, Bagindo Togar, yang mengapresiasi pola komunikasi kolaboratif Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Polda Sumsel di bawah kepemimpinan Kombes Pol Tony Budhi Susetyo, S.I.K., M.H.
Menurut Bagindo, komunikasi yang dibangun dengan pengamat kebijakan, akademisi, tokoh masyarakat, dan berbagai unsur lainnya merupakan langkah positif dalam memperluas perspektif kepolisian ketika merespons persoalan sosial maupun dinamika politik lokal.
Ia menilai, komunikasi yang berlangsung selama ini menunjukkan adanya ruang dialog dua arah antara kepolisian dan elemen masyarakat. Hubungan tersebut dinilai penting agar informasi yang berkembang di lapangan dapat dipahami secara lebih utuh, tidak hanya berdasarkan satu sudut pandang.
“Polda Sumsel, dalam hal ini Direktorat Intelkam, cukup berkomitmen serta konsisten dalam mengapresiasi posisi saya sebagai pemerhati kebijakan dan politik lokal. Selama ini hubungan komunikasi dengan saya tergolong baik,” ujar Bagindo, Kamis (22/10/2026).
Ia menjelaskan, komunikasi dengan Dirintelkam Polda Sumsel Kombes Pol Tony Budhi Susetyo tidak hanya berlangsung ketika muncul persoalan tertentu. Dialog dan konsultasi juga dilakukan untuk memahami latar belakang suatu peristiwa, perkembangan situasi, hingga kemungkinan langkah antisipasi yang dapat dipertimbangkan.
“Acapkali dikomunikasikan dan dikonsultasikan dengan saya, bagaimana awalnya, bagaimana prosesnya, bagaimana antisipasinya, hingga bagaimana penyelesaiannya. Itu terbangun bukan baru sekarang, tetapi sudah sejak lama dan masih berlangsung sampai sekarang,” ungkapnya.
Bagindo berpandangan, pendekatan komunikasi semacam itu dapat menjadi salah satu instrumen pendukung dalam membaca dinamika sosial secara lebih komprehensif. Masukan dari pihak di luar institusi kepolisian, menurutnya, dapat menjadi perspektif pembanding sebelum suatu persoalan ditangani lebih lanjut.
Hal tersebut dinilai relevan ketika menghadapi isu-isu kemasyarakatan yang melibatkan banyak kepentingan, termasuk dinamika aksi demonstrasi mahasiswa dan jurnalis, serta perkembangan situasi politik di daerah.
Dalam konteks demonstrasi, Bagindo menyebut dirinya pernah menyampaikan masukan agar penyampaian aspirasi masyarakat tetap berjalan sesuai tujuan dan tidak dimanfaatkan oleh kelompok yang tidak berkepentingan dengan tuntutan aksi.
Menurutnya, menjaga situasi tetap kondusif tidak berarti membatasi ruang demokrasi. Sebaliknya, diperlukan pendekatan yang profesional, proporsional, dan humanis agar hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat tetap dihormati, sekaligus mencegah munculnya gangguan keamanan.
“Penting untuk memahami persoalan sejak awal, mengetahui perkembangan di lapangan, serta mempertimbangkan langkah antisipasi yang tepat dan terukur. Komunikasi menjadi salah satu cara untuk mempertemukan informasi dan pandangan dari berbagai pihak,” demikian substansi pandangan Bagindo mengenai pentingnya dialog dalam merespons dinamika sosial.
Lebih lanjut, ia mengapresiasi upaya membangun komunikasi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan kalangan perguruan tinggi yang memiliki integritas serta kredibilitas. Keterlibatan mereka dinilai dapat membantu memperluas ruang dialog dan mempertemukan beragam pandangan ketika muncul persoalan yang berpotensi menimbulkan ketegangan sosial.
Bagindo mengatakan, pentingnya melibatkan figur-figur yang memiliki rekam jejak baik juga telah disampaikannya kepada pihak kepolisian. Menurut dia, tokoh yang dipercaya masyarakat dapat memberikan masukan sekaligus membantu menjembatani komunikasi di antara kelompok-kelompok yang memiliki pandangan berbeda.
Ia menegaskan, hubungan komunikasi antara kepolisian dan masyarakat idealnya tidak hanya dibangun ketika terjadi persoalan, tetapi dipelihara secara berkelanjutan. Dengan demikian, ketika muncul dinamika sosial maupun politik, tersedia ruang dialog untuk bertukar informasi, memahami persoalan, dan mencari pendekatan penyelesaian yang sesuai.
Di sisi lain, komunikasi lintas elemen tetap perlu berjalan dengan menghormati independensi pers, kebebasan akademik, serta batas kewenangan masing-masing pihak. Kolaborasi yang sehat bukan berarti menyeragamkan pandangan, melainkan membuka ruang bagi kritik, masukan, dan perbedaan pendapat secara konstruktif.
Bagindo menilai, konsistensi membangun komunikasi semacam ini dapat menjadi modal penting untuk memperkuat kepercayaan publik sekaligus mendukung terciptanya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif di Sumatera Selatan.
Padatkan berita agar lebih tajam
Kurangi pengulangan tentang komunikasi
(Bro Adi)













