Musim Kemarau Ekstrem, PDAM Tirta Musi Pastikan Pasokan Air Palembang Tetap Normal

banner 120x600

Direktur Teknik M. Azharuddin, Ungkap Tantangan Penurunan Debit Sungai, Proses Pengolahan Air, dan Tips Hemat Air bagi Pelanggan

PALEMBANG, Metromedia.co.id — Memasuki musim kemarau dengan kondisi cuaca ekstrem, ketersediaan air bersih menjadi perhatian penting bagi masyarakat Kota Palembang. Penurunan permukaan sungai sebagai sumber utama air baku menuntut Perumda Tirta Musi untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan air, kualitas pengolahan, dan kelancaran distribusi kepada pelanggan.

Direktur Teknik Perumda Tirta Musi Palembang, M. Azharuddin, S.T., menjelaskan bahwa hingga saat ini pasokan air bersih kepada pelanggan masih berada dalam kondisi normal. Hal tersebut didukung kesiapan infrastruktur yang telah dipersiapkan untuk menghadapi perubahan kondisi alam, khususnya penurunan debit air sungai selama musim kemarau.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa musim kemarau tidak hanya berdampak terhadap kuantitas air baku, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas air yang diolah sebelum didistribusikan ke rumah-rumah pelanggan.

Karena itu, pemahaman masyarakat mengenai sumber air baku, proses pengolahan, serta kebiasaan menghemat air menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pelayanan air bersih di Kota Palembang.

Sungai Musi dan Ogan Jadi Sumber Utama Air Baku

Azharuddin menerangkan, seluruh sumber air baku yang digunakan Perumda Tirta Musi berasal dari air permukaan, yakni sungai. Sumber tersebut mencakup Sungai Musi, Sungai Ogan, serta salah satu anak sungai di kawasan tersebut.

“Seluruh sumber air baku Perumda Tirta Musi ini berasal dari sungai. Kita mengambil air dari Sungai Musi, Sungai Ogan, dan salah satu anak sungai,” jelas Azharuddin.

Air dari sumber tersebut terlebih dahulu dipompa dan dialirkan melalui sistem transmisi menuju instalasi pengolahan air (IPA). Di tempat inilah air baku menjalani serangkaian proses pengolahan sebelum dinyatakan memenuhi persyaratan untuk didistribusikan kepada pelanggan.

Menurutnya, air yang terlihat keruh dari sungai tidak serta-merta dapat digunakan secara langsung. Air tersebut harus melewati tahapan pengolahan yang terukur, mulai dari penjernihan, pengendapan, penyaringan, penyesuaian tingkat keasaman, hingga proses disinfeksi.

Melalui Sejumlah Tahapan Sebelum Didistribusikan

Azharuddin menjelaskan, proses pengolahan air dimulai dari tahap koagulasi, yakni pembubuhan bahan kimia berupa tawas cair untuk membantu menggumpalkan partikel-partikel kecil yang terkandung di dalam air.

Selanjutnya, air dialirkan ke bak flokulasi untuk membantu partikel-partikel tersebut membentuk gumpalan yang lebih besar sehingga lebih mudah dipisahkan dari air.

Tahap berikutnya adalah sedimentasi atau pengendapan. Pada proses ini, gumpalan partikel yang terbentuk akan mengendap di dasar bak karena beratnya, sehingga sebagian besar kotoran dapat dipisahkan dari air.

Setelah melalui proses pengendapan, air masuk ke bak filtrasi untuk menjalani penyaringan. Tahapan ini menjadi bagian penting dalam mengurangi partikel yang masih tersisa sebelum air ditampung di reservoir.

“Di bak filtrasi inilah tempat penyaringan terakhir sebelum air masuk ke reservoir,” terangnya.

Di tahap selanjutnya, dilakukan pembubuhan kapur untuk menyesuaikan tingkat keasaman atau pH air agar memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Air kemudian diberi disinfektan untuk membunuh mikroorganisme berbahaya.

Setelah melalui seluruh tahapan tersebut, air ditampung di reservoir sebelum dipompa dan didistribusikan melalui jaringan perpipaan kepada pelanggan.

Rangkaian proses ini menunjukkan bahwa pengolahan air bersih bukan sekadar menjernihkan air secara visual. Kualitas air juga perlu dijaga melalui pengolahan yang tepat dan pemenuhan parameter kualitas sesuai ketentuan yang berlaku.

Permukaan Sungai Musi Turun hingga Dua Meter

Memasuki musim kemarau ekstrem, tantangan utama yang dihadapi Perumda Tirta Musi berkaitan dengan kuantitas dan kualitas air baku.

Azharuddin mengungkapkan, permukaan Sungai Musi mengalami penurunan sekitar 1,5 hingga 2 meter dibandingkan kondisi normal. Penurunan tersebut berdampak terhadap debit air yang dapat diambil melalui sistem pompa.

“Kalau kondisi normal, debit air cukup besar. Sekarang level Sungai Musi turun sekitar 1,5 sampai 2 meter. Otomatis debit yang kita ambil melalui pompa juga akan berkurang,” ujarnya.

Kendati demikian, ia memastikan bahwa sampai saat ini pelayanan air bersih masih berjalan normal. Kesiapan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting dalam mengantisipasi perubahan kondisi sungai tersebut.

Di sisi lain, penurunan debit air juga menuntut pengelolaan sumber air baku secara cermat agar proses pengolahan dan distribusi tetap dapat berjalan sesuai kebutuhan pelayanan.

Menurut Azharuddin, tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas air baku yang dapat berubah mengikuti kondisi cuaca dan lingkungan di sekitar daerah aliran sungai.

Dampak Karhutla dan Air Rawa Perlu Diantisipasi

Selain penurunan permukaan sungai, kualitas air baku juga menjadi perhatian, terutama ketika kondisi kemarau berganti dengan musim penghujan.

Azharuddin menjelaskan, material sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta air dari kawasan rawa, berpotensi terbawa aliran air hujan menuju sungai. Kondisi tersebut dapat memengaruhi karakteristik air baku yang masuk ke instalasi pengolahan.

“Kalau sudah masuk musim penghujan, bekas-bekas karhutla ataupun air rawa-rawa bisa terbawa hujan ke Sungai Musi. Ini dapat menurunkan kualitas air sehingga kita harus bekerja ekstra dalam proses pengolahannya,” ungkapnya.

Perubahan kualitas air baku tersebut mengharuskan pengelola instalasi melakukan penyesuaian proses pengolahan sesuai kondisi air yang masuk, sehingga air yang didistribusikan tetap memenuhi persyaratan kualitas yang berlaku.

Dengan demikian, tantangan pelayanan air bersih tidak berhenti pada memastikan air baku tersedia dalam jumlah yang cukup. Pengawasan kualitas dan kemampuan instalasi pengolahan menghadapi perubahan kondisi sumber air juga menjadi faktor yang tidak kalah penting.

Pelanggan Diajak Menghemat Air dari Rumah

Di tengah kondisi kemarau, Azharuddin mengajak masyarakat untuk ikut berperan menjaga ketersediaan air bersih melalui kebiasaan sederhana di rumah.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memastikan keran ditutup setelah digunakan. Masyarakat juga disarankan memeriksa instalasi perpipaan rumah untuk mencegah kebocoran yang dapat menyebabkan air terbuang tanpa disadari.

Apabila rumah ditinggalkan dalam waktu tertentu, pelanggan dapat menutup keran utama atau aliran dari meteran air sesuai kondisi instalasi. Langkah tersebut dapat membantu mencegah pemborosan, terutama ketika air mengalir saat rumah sedang kosong.

“Untuk penghematan air, secara normatif apabila keran sudah tidak digunakan, segera ditutup. Kalau ingin lebih aman, keran dari meteran bisa ditutup ketika rumah sedang kosong, sehingga saat jadwal pengaliran air tidak terbuang percuma,” jelasnya.

Selain menghemat penggunaan air, pelanggan juga perlu memperhatikan kondisi keran, sambungan pipa, dan perlengkapan sanitasi. Kebocoran kecil yang dibiarkan dalam waktu lama dapat menyebabkan pemborosan air secara terus-menerus.

Kebiasaan menggunakan air sesuai kebutuhan menjadi bentuk dukungan langsung masyarakat terhadap upaya menjaga ketersediaan air bersih, terutama ketika sumber air baku mengalami tekanan akibat perubahan musim.

Menjaga Sungai Berarti Menjaga Sumber Air Bersih

Azharuddin menegaskan, tanggung jawab menjaga kualitas air tidak hanya berada di tangan pengelola air minum, tetapi juga membutuhkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Karena seluruh sumber air baku Perumda Tirta Musi berasal dari sungai, kebersihan sungai memiliki hubungan langsung dengan keberlanjutan pelayanan air bersih bagi masyarakat Palembang.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai dan ikut menjaga lingkungan di sekitar aliran air.

“Untuk masyarakat secara umum, jangan membuang sampah di sungai. Sumber air baku Perumda Tirta Musi seluruhnya berasal dari sungai, jadi kualitasnya harus kita jaga bersama,” tegasnya.

Sampah dan pencemaran yang masuk ke sungai dapat menambah beban pengolahan air. Karena itu, menjaga sungai tetap bersih merupakan langkah pencegahan yang penting, meskipun air baku nantinya masih akan melalui proses pengolahan di instalasi.

Pada akhirnya, keberlanjutan pelayanan air bersih di Kota Palembang membutuhkan dua hal yang berjalan beriringan: kesiapan teknis pengelola dalam menghadapi perubahan kondisi sumber air dan partisipasi masyarakat dalam menggunakan air secara bijak serta menjaga lingkungan.

Di tengah musim kemarau ekstrem, langkah sederhana seperti menutup keran, memperbaiki kebocoran, dan tidak membuang sampah ke sungai menjadi kontribusi nyata masyarakat dalam menjaga ketersediaan dan kualitas air bersih bagi kebutuhan sehari-hari. (Bro Adi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *