Bukan Sekadar Gelar, Putra Putri SMANTA 2026 Ditempa Jadi Duta Karakter dan Pengetahuan

banner 120x600

PALEMBANG, Metromedia.co.id – Gemulai Tari Tanggai membuka kemeriahan Grand Final Pemilihan Putra Putri SMANTA 2026 di SMA Negeri 3 Palembang, Selasa (20/10/2026). Di balik penampilan seni yang sarat makna budaya itu, tersimpan semangat yang lebih besar: membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul dalam penampilan, tetapi juga berkarakter, berwawasan luas, dan siap menjadi representasi sekolah.

Panggung grand final tersebut menjadi puncak perjalanan panjang para peserta dalam mengikuti proses seleksi. Bagi mereka, ajang ini bukan sekadar kompetisi untuk meraih gelar, melainkan ruang pembuktian diri, tempat mengasah kepercayaan diri, kemampuan, serta kepribadian sebagai pelajar yang mampu membawa nama baik sekolah.

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Basuni, S.Pd., M.M., M.Pd., yang hadir mewakili Kepala Dinas Pendidikan Sumsel.
Dalam sambutannya, Basuni mengapresiasi penyelenggaraan Pemilihan Putra Putri SMANTA 2026.

Ia menegaskan bahwa generasi muda membutuhkan perpaduan antara karakter yang kuat dan pengetahuan yang memadai agar mampu menghadapi tantangan pendidikan maupun kehidupan sosial yang semakin kompetitif.

“Selain siswa harus memiliki karakter yang kuat, mereka juga mutlak harus dibekali dengan knowledge (pengetahuan) yang mumpuni, agar nantinya mampu bersaing di jenjang pendidikan maupun lingkungan yang lebih tinggi,” tegas Basuni.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kecakapan seorang pelajar tidak cukup diukur dari penampilan atau kemampuan berbicara di depan umum. Integritas, perilaku, wawasan, dan kematangan sikap merupakan bagian penting yang menentukan bagaimana seorang siswa dapat memberi pengaruh positif bagi lingkungannya.

Dari 120 Pendaftar, Tersisa 22 Finalis Terbaik

Kepala SMA Negeri 3 Palembang, Armansyah, S.Pd., M.M., menjelaskan bahwa Pemilihan Putra Putri SMANTA merupakan salah satu upaya sekolah untuk menjaring sekaligus mengembangkan potensi peserta didik, terutama mereka yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Menurutnya, kompetisi semacam ini penting untuk menjaga semangat siswa dalam mengembangkan bakat dan kemampuan. Melalui kegiatan yang terarah, proses latihan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga memiliki tujuan dan ruang aktualisasi yang jelas.

“Tujuan kegiatan ini diselenggarakan adalah untuk menyaring bakat siswa-siswa kita. Mereka ini kan tergabung dalam ekstrakurikuler (ekskul), artinya kalau kita tidak adakan kegiatan seperti ini, dikhawatirkan nantinya mereka sedikit kendor latihannya,” ungkap Armansyah.

Antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai 120 orang. Setelah melalui tahapan seleksi, jumlah tersebut mengerucut menjadi 40 peserta, sebelum akhirnya 22 finalis putra dan putri terbaik mendapatkan kesempatan tampil pada malam puncak pemilihan.
Perjalanan menuju panggung grand final tentu bukan hanya tentang siapa yang paling menonjol. Para finalis harus menunjukkan potensi dan kesiapan mereka untuk memenuhi kriteria yang ditetapkan, sekaligus membuktikan bahwa mereka memiliki kualitas untuk mengemban tanggung jawab sebagai duta sekolah.

Dukungan orang tua turut menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Armansyah menyebut antusiasme keluarga peserta sangat tinggi, menunjukkan bahwa pengembangan bakat dan kepribadian siswa membutuhkan dukungan bersama antara sekolah dan keluarga.

Untuk menjaga kualitas serta objektivitas penilaian, pihak sekolah menghadirkan dewan juri dari kalangan praktisi pageant profesional di luar lingkungan sekolah. Di antaranya terdapat perwakilan Ikatan Bujang Gadis Palembang dan Putri Nusantara.
Kehadiran juri eksternal diharapkan memberikan perspektif yang lebih luas dalam menilai kemampuan peserta, sehingga proses pemilihan tidak hanya berorientasi pada penampilan, tetapi juga mempertimbangkan kualitas diri yang relevan dengan tugas seorang duta sekolah.

Duta Sekolah dengan Tanggung Jawab Lebih Besar

Bagi para pemenang, mahkota dan gelar Putra Putri SMANTA 2026 bukanlah garis akhir. Sebaliknya, gelar tersebut menjadi awal dari tanggung jawab baru untuk membawa identitas dan nilai-nilai positif SMA Negeri 3 Palembang ke berbagai kesempatan.

Armansyah menjelaskan, para pemenang akan menjadi representasi sekolah dalam beragam kegiatan, baik di lingkungan SMAN 3 Palembang maupun di luar sekolah. Mereka juga diharapkan mampu mengembangkan kemampuan dengan mengikuti kompetisi dan ajang pencarian bakat pada tingkat yang lebih tinggi.

“Mereka akan menjadi duta sekolah di setiap ajang, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Kita berharap mereka nanti akan mengikuti lomba-lomba atau ajang mencari bakat di posisi yang lebih tinggi dan lebih bergengsi lagi, serta bisa menularkan kompetisi positif ini ke sekolah-sekolah lain,” paparnya.

Harapan tersebut menempatkan Putra Putri SMANTA bukan semata-mata sebagai simbol kebanggaan sekolah. Mereka diharapkan mampu menjadi teladan bagi sesama siswa, menunjukkan perilaku yang baik, serta menginspirasi tumbuhnya budaya berprestasi melalui persaingan yang sehat.

Di sisi lain, ajang ini juga mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang membawa pulang gelar. Proses persiapan, keberanian menghadapi penilaian, kedisiplinan berlatih, dan kemauan untuk terus berkembang merupakan pengalaman berharga yang akan menyertai setiap peserta.

Armansyah pun menyampaikan ucapan selamat kepada para peserta yang terpilih. Menurutnya, mereka telah memenuhi kriteria yang mencakup kecerdasan, penampilan, perilaku (behavior), dan karakter yang baik untuk menjalankan peran sebagai duta sekolah.

Namun, ia juga mengingatkan peserta yang belum berhasil meraih gelar agar tidak berkecil hati. Sebab, seluruh finalis telah melalui proses seleksi dan menunjukkan keberanian untuk tampil serta berkompetisi.

“Ke-22 finalis ini sejatinya sudah menjadi pemenang kebanggaan bagi SMA Negeri 3 Palembang,” menjadi pesan yang menegaskan bahwa setiap peserta memiliki nilai dan potensi yang patut diapresiasi.

Pada akhirnya, Grand Final Putra Putri SMANTA 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan di atas panggung, tetapi juga menyampaikan pesan tentang arti pendidikan yang lebih luas. Bahwa generasi unggul bukan hanya mereka yang mampu tampil percaya diri, melainkan juga mereka yang memiliki pengetahuan, menjaga karakter, dan bersedia membawa pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya.

Dari panggung SMANTA, sekolah berharap lahir generasi muda yang tidak berhenti pada kebanggaan atas sebuah gelar, tetapi terus bertumbuh menjadi pribadi yang mampu menginspirasi dan berprestasi di masa depan. (Bro Adi)
Ringkas bagian reflektif dan repetitif
Rapikan kutipan Armansyah
Konsistenkan istilah kompetisi dan penjurian.

 

(Bro Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *