Dukungan Penuh Berbuah Manis, Enam Atlet ABK Sumsel Borong 10 Medali di Pesonas II

banner 120x600

PALEMBANG, Metromedia.co.id – Keterbatasan jumlah atlet tak menjadi penghalang untuk menorehkan prestasi. Dengan hanya mengirimkan enam atlet Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), kontingen Sumatera Selatan (Sumsel) mampu membawa pulang 10 medali dari ajang Pekan Special Olympics Nasional (Pesonas) II di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Capaian tersebut bukan sekadar deretan angka di papan perolehan medali. Di balik tiga medali emas, tiga perak, dan empat perunggu, tersimpan kisah tentang perjuangan, kesabaran, serta dukungan berbagai pihak yang percaya bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berkembang dan berprestasi.

Bersaing dengan atlet-atlet dari berbagai provinsi, enam atlet SOIna Sumsel membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah batas bagi seseorang untuk meraih pencapaian terbaiknya. Bahkan, dengan jumlah atlet yang jauh lebih sedikit dibandingkan kontingen daerah lain, Sumsel mampu menembus jajaran 10 besar nasional.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Sumsel, Hj. Mondyaboni, S.E., S.Kom., M.Si., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas perjuangan dan prestasi para atlet. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan buah dari pembinaan yang berkelanjutan, pendidikan inklusif, serta kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Alhamdulillah, hari ini anak-anak sudah kembali dari NTT mengikuti Pesonas. Kita masuk 10 besar nasional dengan jumlah atlet yang sangat terbatas. Dari delapan cabang olahraga, kita hanya mengikuti empat cabang dan semuanya mendapatkan medali,” ungkap Mondyaboni.

Ia menilai, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kesempatan untuk mengembangkan bakat dan meraih prestasi harus terbuka bagi seluruh peserta didik, termasuk mereka yang menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Karena itu, Dinas Pendidikan Sumsel terus berupaya memberikan ruang yang setara bagi siswa SLB untuk mengikuti berbagai kegiatan pengembangan bakat, baik di bidang olahraga, seni, maupun akademik. Pembinaan tersebut diharapkan dapat membantu anak-anak menemukan potensi terbaik sekaligus meningkatkan kepercayaan diri mereka.

“Kepada seluruh orang tua, kita patut berbangga memiliki amanah dari Allah SWT berupa anak-anak istimewa yang harus kita jaga bersama. Harapannya, anak-anak tidak berpuas diri, terus berlatih, dan mudah-mudahan ke depan ada perwakilan dari Sumsel untuk mengikuti kejuaraan di tingkat dunia,” tambahnya.

Enam Atlet, Sepuluh Medali

Di balik keberhasilan kontingen Sumsel, terdapat enam atlet yang tampil dengan kemampuan dan keunggulan masing-masing. Mereka bertanding di empat cabang olahraga, yakni renang, bocce, tenis meja, dan atletik.

Muh. Yusup menjadi salah satu penyumbang medali terbanyak melalui cabang olahraga renang. Ia berhasil meraih dua medali emas dan satu perunggu. Prestasi serupa ditorehkan Marrcel yang menyumbangkan satu emas, satu perak, dan satu perunggu dari cabang olahraga yang sama.

Dari cabang bocce, Reka Okta Pratama mempersembahkan satu medali perak, sedangkan Safira menyumbangkan satu perunggu. Sementara itu, Andre Risky Asravin berhasil membawa pulang satu medali perak dari cabang tenis meja.

Adapun dari cabang atletik, Akbar Insani turut melengkapi perolehan medali Sumsel dengan satu medali perunggu.

Secara keseluruhan, enam atlet tersebut mengumpulkan tiga medali emas, tiga perak, dan empat perunggu. Seluruh cabang olahraga yang diikuti kontingen Sumsel berhasil menyumbangkan medali, memperlihatkan hasil positif dari proses pembinaan yang telah dijalankan.

Ketua Special Olympics Indonesia (SOIna) Provinsi Sumsel sekaligus pelatih kontingen, Sarjana, S.Pd., mengaku bangga dengan perjuangan anak-anak asuhnya. Menurut dia, hasil tersebut terasa istimewa karena para atlet harus menghadapi persaingan ketat dengan kontingen dari daerah lain yang memiliki jumlah peserta jauh lebih besar.

“Kekuatan kita kali ini hanya enam atlet karena lokasi di NTT cukup jauh. Ini sangat menantang karena lawan kita dari provinsi lainnya ada yang mengirimkan 200 hingga 300 atlet. Namun, berkat dukungan dari Bapak Gubernur, Wakil Gubernur, Bank SumselBabel, Ibu Kadisdik, hingga pihak sekolah, enam anak kita bisa menghasilkan prestasi yang luar biasa,” jelas Sarjana.

Baginya, keberhasilan tersebut tidak lahir dalam semalam. Ada proses latihan, pendampingan, dan dukungan yang harus berjalan beriringan agar para atlet mampu mengenali kemampuan diri, membangun kepercayaan diri, serta tampil optimal ketika berhadapan dengan lawan.

Kesabaran Menjadi Kunci Pembinaan

Sarjana bukan sosok baru dalam dunia pembinaan atlet disabilitas intelektual. Sejak 1995, ia telah mendedikasikan diri untuk mendampingi anak-anak dengan kebutuhan khusus agar dapat mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi melalui olahraga.

Pengalaman selama puluhan tahun itu mengajarkannya bahwa melatih atlet ABK membutuhkan pendekatan yang berbeda. Selain penguasaan teknik olahraga, pelatih harus mampu membangun kedekatan emosional, memahami karakter setiap atlet, dan memberikan pendampingan dengan penuh kesabaran.

Menurutnya, keberhasilan pembinaan tidak cukup diukur dari kemampuan atlet mengikuti instruksi atau menguasai teknik tertentu. Proses tersebut juga menuntut ketekunan dalam membangun rasa percaya diri, menjaga semangat berlatih, serta membantu atlet melewati berbagai tantangan.

“Tantangan terbesarnya adalah kesabaran. Metode pelatihannya kita harus seperti orang tua sendiri yang penuh kasih sayang. Khusus untuk anak Down Syndrome seperti atlet kita Reka dan Safira di cabang bocce, itu pendekatannya harus ekstra. Kalau dari hati, tidak ada kata menyerah,” tegasnya.

Pendekatan penuh kasih sayang tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan para atlet. Setiap perkembangan membutuhkan proses, sedangkan setiap pencapaian merupakan hasil dari latihan dan pendampingan yang dilakukan secara konsisten.

Di sinilah arti dukungan menjadi semakin nyata. Peran keluarga, pelatih, sekolah, pemerintah, dan pihak-pihak yang peduli terhadap olahraga disabilitas tidak hanya membantu atlet mencapai prestasi, tetapi juga membuka ruang agar mereka dapat berpartisipasi dan memperoleh kesempatan yang setara.

Menatap Panggung Dunia

Keberhasilan di Pesonas II menjadi modal penting bagi SOIna Sumsel untuk memperkuat pembinaan atlet menuju kompetisi berikutnya. Harapan untuk tampil di tingkat internasional pun mulai diarahkan pada ajang Special Olympics World Games yang dijadwalkan berlangsung pada 2027.

Namun, langkah menuju panggung dunia membutuhkan persiapan yang matang. Pembinaan berkelanjutan, kesempatan mengikuti kompetisi, peningkatan kualitas latihan, serta dukungan pendanaan dan fasilitas menjadi bagian penting yang perlu terus diperkuat.

Bagi enam atlet Sumsel, sepuluh medali yang dibawa pulang dari Kupang bukanlah akhir perjalanan. Prestasi tersebut justru menjadi pijakan untuk terus berlatih, mengasah kemampuan, dan membuktikan bahwa atlet ABK mampu bersaing ketika memperoleh kesempatan dan dukungan yang memadai.

Dari enam atlet yang berangkat dengan segala keterbatasan, Sumsel pulang membawa sepuluh medali sekaligus pesan penting: prestasi tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya kontingen, melainkan juga oleh kualitas pembinaan, ketekunan, dan kepercayaan terhadap kemampuan setiap individu.

Dengan dukungan yang terus terjaga, para atlet SOIna Sumsel diharapkan tidak hanya mengharumkan nama daerah di tingkat nasional, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berdiri di panggung dunia dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

(Bro Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *